KEJUJURAN
Assalamualaikum
wr.wb.
Inalhamdalillah
nahmaduhu wanasta’inuhu wanastaghfiruhu, wana’udzubillahi minsyururi anfusina
wamin sayyiati a’malina mayyah dillahu fala mudi lalah, wama yudlilhu fala
hadialah, ashadu alla illahaillalloh, waashadu ana muhamadarrosululloh, robbisrohli
shodri wayahsirli amri wahlul’uqdatamilisani yaf qohu qouli aamiin. Ama ba’du.
Qolallohu ta’ala fil kitabihil karim, a’udzubillahiminasyaitonirrojim
bismillahirrohmanirrohim,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ
شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ ۖ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ Shodaqolohul’adzim.
Yang
saya hormati, Bapak/Ibu dewan juri lomba pidato da’i tingkat Provinsi Jawa Tengah. Yang
saya hormati, Bapak/Ibu guru, segenap tamu undangan, dan yang saya hormati
bapak/ibu pendamping serta
para peserta lomba da’i
yang
saya sayangi dan saya banggakan.
Suatu
kenikmatan tak ternilai dapat berada di tempat ini dalam keadaan sehat
wal’afiat baik jasmani dan rokhani. Dan sebagai insan yang beragama alangkah
baiknya terlebih dulu kita panjatkan puji syukur kita kepada Alloh SWT, yang
senantiasa melimpahkan karunia dan kenikmatannya. Sholawat dan salam semoga
tetap tercurah kepada junjungan Nabi Agung kita, Muhammad SAW., yang selalu
mengajak manusia untuk selalu menyembah Alloh SWT dan melarang menyekutukanNya
serta kita nanti-nantikan syafaatnya kelak di yaumil qiamah
Hadirin
yang berbahagia, sebelum saya memulai tausyiah, perkenalkan, Nama saya Saryo, asal
sekolah SMK Negeri 1 Punggelan, kabupaten
Banjarnegara.. Dalam kesempatan ini perkenankanlah saya untuk
menyampaikan tausiyah mengenai “KEJUJURAN”
Hadirin yang berbahagia. Seperti yang kita ketahui
bersama, kejujuran merupakan sifat yang sangat mulia, semua elemen masyarakat
membutuhkan orang-orang yang jujur. Kita mau melamar kerja, kita di tes dulu
kejujuran kita, lewat tes psikologi. Kita mau menjabat anggota dewan, syarat
utamanya harus berakhlak mulia, salah satunya juga kejujuran. Ini artinya
kejujuran disukai semua orang. Adakah diantara kita yang tidak suka sama
kejujuran? Namun demikian, realita yang terjadi
adalah kebalikannya. Ketika kejujuran sangat di butuhkan, kini seolah-olah
menjadi barang yang langka, sulit untuk kita dapati orang-orang yang jujur.
Misalkan ketika UN 2012, hasil survey saya, hanya 20% siswa yang lulus dengan
jujur, tetapi hampir di setiap sekolah dengan bangga, “ditulis lulus 100%”, dan
jika kita lihat nilau UN-nya tinggi-tinggi, namun dengan berbagai cara ditempuh
mulai dari menggunakan kunci jawaban dan pihak sekolah memberikan nilai US yang
tidak rasional. Jadi, pantas saja kalau lulusan-lulusan di Indonesia dari tahun
ke tahun kualitasnya semakin menurun. Dari laporan UNDP tahun
2012, dilaporkan bahwa HDI (Human Development Index) atau Indeks Perkembangan
Manusia Indonesia berada rangking 121 dari 187 negara di dunia. Dan di tingkat
ASEAN menduduki rangking 5 setelah Malaysia. Hal ini dapat dibaca bahwa
Indonesia merupakan Negara dengan tingkat kesehatan yang kurang baik, tingkat
pendidikan yang rendah, dan pendapatan per kapita yang rendah.
Indonesia
yang konon mayoritas penduduknya beragama Islam, jika disurvey sesuai dengan
standar Al-Qur’an maka akan menjadi terbalik. Dari hasil survey saya,
didapatkan bahwa siswa SLTA yang mengerjakan sholat 5 waktu sehari semalam dan
tetap menjaganya hanya berkisar 10%. Siswa melakukan sholat rata-rata hanya 2
waktu. Belum lagi gonjang ganjing di tingkat nasional, misalnya banyaknya data
yang tidak benar. Data jumlah sapi misalnya, telah dimanipulasi untuk
kepentingan impor sapi, yang berujung tertangkapnya LHI presiden partai Islam
dalam masalah korupsi. Data jumlah pemilih pemilu tahun depan belum juga beres
masih dikomplain banyak pihak. Data kemenangan pemilukada telah dimanipulasi
sehingga menyeret AM ketua Mahkamah Konstitusi harus dicopot dari jabatannya.
Jangan-jangan data jumlah penduduk yang beragama Islam juga salah ternyata
bukan mayoritas tapi telah menjadi minoritas.
Hadirin
yang berbahagia, negara kita mulai memasuki fase sebagai negara kleptokrasi,
dengan tertangkapnya AM ketua Mahkamah Konstitusi terlihat sempurnanya semua
kekuasaan negara dari unsur legislatif, eksekutif dan yudikatif semua terlibat
dalam pemufakatan jahat. Semua media dunia meliput sebagai berita besar dunia.
Memang semua bentuk
pemerintahan rentan korupsi dalam prakteknya. Bermula dari yang namanya mafia
disusul dengan korupsi, dan titik ujung korupsi adalah kleptokrasi, yang arti harafiahnya pemerintahan oleh para pencuri,
dimana berpura-pura bertindak jujur pun tidak ada.
Hadirin
yang berbahagia, ketidakjujuran akan berdampak sistemik dan massif. Saya ambil contoh yang sederhana, bahwa jujur itu akan
membawa pada keadilan. Saat tes di sekolah diadakan, tentunya ada pengawasnya, nah disinilah
kejujuran dari pengawas harus dimunculkan. Untuk apa pengawas jujur? Agar siswa yang
pintar terlindungi, sehingga pada saat tes berlangsung, siswa bodoh tidak bisa
menyontek dan yang pintar akan maksimal hasilnya, karena tidak diganggu oleh
ulah si bodoh. Dengan demikian maka keadilan
pun akan terwujud, terlihat saat pembagian nilai dilaksanakan,
akan terlihat mana yang bodoh dan mana yang pintar, Itu misal buah dari
kejujuran. Dan bagaimana jadinya jika si pengawas tersebut tidak jujur?
Pengawas diam diri, hanya memberikan sebatas peringatan terhadap yang mencontek
dan
tidak memberikan tindakan tegas mencegah ketidakjujuran. Dan akhirnya yang pintar tidak terlindungi, dan yang
bodoh pada berbondong-bondong mencontek pada yang pintar. Pada saat pengumuman,
hasilnya pun sama, semua nilai yang didapat sama. Dan kalau nilainya semua sama,
siapa yang bodoh, dan mana yang pintar? Itu baru hal kecil. Apakah masih ada lagi dampaknya?
Banyak, jangan dikira cuma itu saja. Karena ketidakjujuran tadi, membuat nilai
ijazah si bodoh dan
si pinter sama, terus mereka mencari pekerjaan. Pada saat mencari pekerjaan,
misalnya dokter, mereka dites terlebih dahulu, nah pada saat tes, karena nilai
si pintar dan si bodoh sama, maka tidak ada pertimbangan lain bagi si pengawas
seleksi. Nah karena si bodoh ini orang kaya, akhirnya dia pun bisa memberi
nilai plus kepada panitia hanya memberi ongkos buat beli rokok misalkan,
asalkan dia yang diterima dan akhirnya si bodoh inipun diterima, yang pintar
gugur, adilkah? Tidak. Belum berhenti disini, saat si bodoh menjabat sebagai dokter, ya jadi dokter tidak
cakap. Karena dia tidak tahu apa-apa
tentang ilmu kedokteran, maklumlah nilai ujiannya hasil menyontek.
Pasien yang datang untuk berobat, bukannya sembuh malah
tambah parah. Kita nggak bisa tutup telinga, kalau sekarang banyak
korban-korban mal praktek. Iya tidak? Di media masa sekarang sering dimuat
bahwa kualitas dokter mengkhawatirkan. Bagaimana jika semua profesi dan
birokrasi kita seperti itu? Dan lebih parahnya jika dia bosan jadi dokter dan
ingin mencalonkan jabatan publik misalnya bupati, karena kebiasaan naik kelas,
biasa lulus, dan biasa sukses, maka harus jadi bupati. Begitu kenyataan yang
jadi bupati orang lain maka tidak mau terima pokoknya harus jadi bupati
walaupun dengan segala macam cara. Kan ironi masa sebuah kabupaten bupatinya
dua. Akhirnya biar bisa jadi bupati maka membuat daerah pemekaran baru. Dan
jika di daerah pemekaran baru juga tidak jadi, maka segala macam cara ditempuh
misalnya memanipulasi suara dan berkerja sama dengan panitia penyelenggara dan
lembaga peradilan pemilu macam MK. Bangsa ini dalam keadaan darurat
ketidakjujuran.
Lantas apa solusinya? Hadirin yang berbahagia, dalam
surat Al-Maidah ayat 8, ayatnya telah saya baca tadi di muqodimah, yang
artinya: “Hai orang-orang yang beriman
hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena
Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan
janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk
berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.
Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu
kerjakan”.(Qs.
Al-Maidah ayat 8). Kebenaran dalam ayat tersebut artinya jujur, jadi
dengan jujur kita akan menjadi orang yang adil, dan dengan kita adil, kita akan
menjadi orang yang bertaqwa. Kaitannya dengan kejujuran, rosululloh SAW,
bersabda dalam hadist Bukhori حديث عبدالله بن مسعود رضي الله عنه عن النّبيّ صلّى الله عليه وسلّم قل :
إِنَّ الصِّدْقَ يَهْد إِلَى اْلبِرِّ وَإِنَّ اْلبِرَّ يَهْدِي إِلَى اْلجَنَّةِ
وَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَصْدُقُ حَتَّى يَكُوْنَ صِدِّيْقًا. وَإِنَّ اْلكِذْبَ
يَهْدِي إِلَى اْلفُجُوْرِ وَ إِنَّ اْلفُجُوْرِ يَهْدِي إِلَى النَّارِ. وَ إِنَّ
الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ خَتىَّ يُكْتَبَ عِنْدَ اللهِ كَذَّابًا.
(أخرج البخارى فى : 78- كتاب
الأدب :69 باب قول الله تعالى : ياأيها الذين
yang
artinya: “Hendaklah
kamu selalu benar. Sesungguhnya kebenaran membawa kepada kebajikan dan
kebajikan membawa ke surga. Selama seorang benar dan selalu memilih kebenaran
dia tercatat di sisi Allah seorang yang benar (jujur). Hati-hatilah terhadap
dusta. Sesungguhnya dusta membawa kepada kejahatan dan kejahatan membawa kepada
neraka. Selama seorang dusta dan selalu memilih dusta dia tercatat di sisi
Allah sebagai seorang pendusta (pembohong)” (HR. Bukhari)
Hadirin yang berbahagia, terlihat
jelas bahwa semua orang Islam atau
muslim harus bersifat jujur dan itu wajib hukumnya kalau termasuk orang
beriman. Jika mau jujur, semua ketidakjujuran adalah bukti kegagalan pendidikan
di Indonesia. Maka solusinya tentu melalui pendidikan yang berkarakater
kejujuran. Rupanya pakar pendidikan telah merespon dengan baik berupa menambahkan
jam belajar pendidikan agama menjadi 3 jam perminggu dari yang sebelumnya hanya
2 jam permingggu di kurikulum 2013. Dari nama mata pelajarannya telah berubah
menjadi pendidikan agama dan budi pekerti. Maka hendaknya para guru agama
segera merespon dengan mempersiapkan diri untuk meningkatkan kualitas
mengajarnya dengan mengusung tema kejujuran sebagai prioritas pertama. Jangan
seperti pepatah bagaimana bisa mau mengawetkan ikan dengan garam busuk atau
bagaimana mungkin membersihkan lantai dengan sapu yang kotor. Maka perlu
install ulang pendidikan agama Islam di Indonesia misalnya, rubah definisi
khatam Al Qur’an. Orang dikatakan khatam Al-Qur’an jika telah khatam membaca
Al-Qur’an dan terjemahannya. Departemen Agama RI harus mengeluarkan instruksi
kepada semua penerbit Al-Qur’an agar mencetak dengan terjemahan. Sehingga semua
Al-Qur’an di Indonesia telah ada terjemahannya. Dengan, diharapkan semua muslim
Indonesia memahami makna Al Qur’an sebagai petunjuk kehidupan.
Kedua,
orientasi pendidikan agama dititikberatkan pada perilaku bukan pengetahuan. Membudayakan
perilaku akhlak mulia butuh waktu lama dan terus menerus. Perlu diyakini hanya
lewat pendidikan karakter manusia bisa dirubah. Karena pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar
dan proses pembelajaran agar peserta didik
secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri,
kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan
dirinya dan masyarakat.
Ketiga,
pembudayaan pendidikan karakter yang diprioritaskan adalah kejujuran. Hal ini
sesuai dengan sirah nabawiyah
dikisahkan seorang biasa mabuk ingin masuk Islam maka nabi memberi solusi
sederhana boleh masuk Islam asal menjaga kejujuran (tidak berbohong). Dan
akhirnya karena tidak berbohong terus menerus maka kebiasaan mabuk pun akhirnya
sembuh, sehingga menjadi muslim yang taat. Dengan melihat kerja pemerintahan
selama 2 periode setelah reformasi masih jauh dari keberhasilan pemberantasan
korupsi, maka untuk menyelesaikan tiga tahap tersebut butuh waktu paling tidak
25 tahun. Jika karakter jujur sudah tertanam dengan baik, maka menanamkan
karakter akhlak mulia yang lain akan mudah, mungkin cukup waktu 5 tahun.
Hadirin
yang berbahagia, implementasi dari ketiga tahapan tersebut adalah komitmen
untuk menerima kenyataan. Misalnya pelaksanaan UN jika dilaksanakan dengan
jujur, maka ada 30% siswa tidak lulus. Maka pemerintah harus berkomitmen untuk
meredakan masyarakat menerima kenyataan. Pemerintah menampung 30% siswa tidak
lulus dengan memberi kesempatan mengikuti UN di akhir tahun pelajaran selama
dua kali. Konsekwensinya, untuk sementara penerimaan siswa baru tetap ditampung
dengan mengubah jumlah rombongan belajar seperti dulu yakni 40 siswa per kelas.
Jika dilakukan secara istiqomah maka muncul budaya, tidak naik atau tidak lulus
merupakan hal biasa, efeknya akan menimbulkan persaingan yang sehat (kemandirian)
diantara siswa. Dengan pembudayaan kejujuran yang istiqomah akan menimbulkan
budaya akhlakul karimah. Karena karakter jujur adalah inti dari semua karakter
akhlak mulia. Jika ini dilakukan maka saya yakin tahun 2045 saat Indonesia
genap berusia 100 tahun, akan menjadi negara yang maju dan bermartabat. Aamiin
ya robbal’alamin, semoga.
Sekian apa yang dapat saya sampaikan, Jika
ada baiknya, itu datangnya dari Alloh SWT, dan saya sebagai manusia biasa yang pasti banyak kekeliruan dan
kesalahan, saya mohon maaf yang setulus-tulusnya.. Akhiru kalam
Wassalamu’alaikum wr.wb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar